Ztaremolhk

Carbon Sink | 30 December 2009

Dari buku national geografi bulan Desember tahun 2009 yang aku baca. Kalo kita membuang karbon dioksida ke atmosfer lebih cepat daripada kemampuan alam untuk membersihkannya, planet kita akan mengalami pemanasan atau yang biasa disebut global warming. Tapi waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan pasokan karbon dioksida dari atmosfer juga lama.
Menurut John Streman, teradapat kesalahan manusia yang mendasar yang merintangi upaya perang terhadap pemanasan global. Yang dimaksud Streman bukanlah keserakahan, sifat egois, atau sifat-sifat buruk lainnya. Ia sedang membicarakan keterbatasan pemahaman. ”Masalah penting dan laten mengenai cara manusia berpikir”, begitu meurut Streman. Hal itu ia amati selama menguji mahasiswa pasacasarjana di Sloan School of Management di Massachusetts Institute of Technology(MIT), tempat ia mengajar ilmu sistem dinamika. Menurut Sterman,para muridnya itu , walaupun sangat cerdas dan mahir kalkulus, ternyata kurang memeiliki pemahaman intuitif tentang sebuah sistem yang sederhan tetapi vital: bak mandi.
Yang dimaksud Streman adalah bak mandi dengan air keran dan sumbat saluran buangan yang terbuka. Ketinggian air dapat dijadikan perumpaan untuk banyak hal, salah satunya kadar CO2 di atmosfir Bumi. Pada kasus ini, ketinggian atau isi bak mandi hanya bisa berkurang jika buangan air lebih cepat daripada laju aliran air.
Tetumbuhan, lautan, dan bebatuan semuanya membersihkan CO2 dari atmosfer. Akan tetapi, seperti penjelasan ahli klimatologi David Archer dalam bukunya The Long Thaw, proses pembersihan itu berjalan lambat. Sebagian besar mahasiswa berpikir, peningkatan kadar CO2 di atmosfer dapat dihentikan hanya dengan menghentikan pertambahan emisi. Jika mahasiswa pascasarjana MIT saja tidak memahami konsep ini, sebagian besar politisi dan masyarakat kemungkinan juga tidak paham. ”Dan ini berarti mereka berpikir bahwa menstabilkan buangan gas rumah kaca dan menghentikan pemanasan global adalah pekerjaan yang lebih mudah daripada yang sbenarnya,” ucap Sterman.
Pada 2008, kadar CO2 di atmosfer adalah 385 ppm dan meneingkat 2 atau 3 pp, setiap tahun. Untuk menghentikan peningkatannya pada kadar 450 ppm kadar yang dianggap sangat berbahaya oleh para ilmuwan, menurut Sterman, dunia harus mengurangi emisi CO2 sekitar 80 persen pada 2050. Saat para diplomat bersidang di Kopenhagen Desember 2009 ini untuk merundingkan perjanjian ilklim global, Sterman kaan hadir untuk ikut memberi gambaran. Ia akan menggunakan simulasi komputer berdasarkan model prakiraan iklim terbaru untuk memperlihatkan bagaimana pengurangan emisi yang ia usulkan akan memengaruhi kadar CO2 di atmosfer serta suhu Bumi. Para mahasiswa Sterman biasanya menjadi semakin pandai tentang sistem dinamika bak mandi akhir kuliah. Dan ini memberikan harapan kepada Sterman. ”Orang dapat belajar dan memahami konsep ini,” katanya.
-Robert Kunzig

Hutan Sebagai Penyerap Karbon

Hutan memiliki penting dalam siklus karbon secara global, yaitu sebagai penyimpan karbon dari semua ekosistem terrestrial, dan bertindak sebagai penyerap karbon dalam beberapa kondisi tertentu. Besarnya CO2 (carbon dioksida) yang tersimpan dalam ekosistem hutan merupakan suatu penyangga penting dalam proses menjaga perubahan iklim (climate changes). Tetapi sangat disayangkan, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya emisi yang dilepas oleh berbagai aktivitas manusia.
Penyumbang utama emisi dalam seratus tahun terakhir ini berasal dari pembakaran bahan-bakar dari fosil (fossil fuel), termasuk di dalamnya minyak, gas dan batu-bara, untuk keperluaan bahan bakar kendaraan bermotor, kegiatan industri dan pembangkitan tenaga listrik. Kontribusi dari sektor ini diperkirakan mencapai sekitar 65% dari total emisi dunia (Stern, 2007). Walaupun demikian, kegiatan pertanian (14%), deforestasi (18%), kegiatan rumah-tangga dan pembuangan limbah, turut berkontribusi dalam melepaskan gas-gas pemanas, yaitu carbon (zat arang) dan metan ke udara. Untuk konteks di Indonesia, penyumbang terbesar emisi bagi gas rumah kaca, dihasilkan dari kebakaran dan penggundulan hutan (deforestasi). Eksploitasi yang tidak terkontrol, terutama akibat praktek-praktek penebangan liar (illegal logging), konversi hutan alam dan gambut untuk dijadikan perkebunan sawit dan pertambangan, pemberian ijin pemanfaatan kayu, serta kebakaran hutan merupakan faktor-faktor utama yang mempercepat terjadinya deforestasi di Indonesia (FWI/GFW, 2001).
Kemampuan hutan untuk menyerap karbon semakin terbatas, salah satunya disebabkan oleh laju deforestasi yang semakin cepat. Peran penting hutan yang sedianya berfungsi sebagai penyimpan (storage) maupun penyerap (sink) karbon akan berubah menjadi salah satu sumber penghasil emisi panas yang mempengaruhi konsentrasi gas rumah kaca (GRK).

Siklus karbon di dalam biosfer meliputi dua bagian siklus penting, di darat dan di laut. Keduanya dihubungkan oleh atmosfer yang berfungsi sebagai fase antara. Siklus karbon global melibatkan transfer karbon dari berbagai reservoir. Jika dibandingkan dengan sumber karbon yang tidak reaktif, biosfer mengandung karbon yang lebih sedikit, namun demikian siklus yang terjadi sangat dinamik di alam (Vlek, 1997).

Sejumlah besar kalsium karbonat dalam lebih dari 10 juta tahun yang lalu telah terlarut dan tercuci dari permukaan daratan. Sebaliknya, dalam jumlah yang sama telah terpresipitasi dari air laut ke dalam lantai dasar laut. Waktu tinggal (residence time) karbon di dalam atmosfer dalam pertukarannya dengan hidrosfer berkisar antara 5 – 10 tahun, sedangkan dalam pertukarannya dengan sel tanaman dan binatang sekitar 300 tahun. Hal ini berbeda dalam skala waktu dibandingkan dengan residence time untuk karbon terlarut (ribuan tahun) dan karbon dalam sedimen dan bahan bakar fosil (jutaan tahun) (Vlek, 1997 dalam Herman Widjaja, 2002).

Dari hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia dengan menggunakan metoda IPCC 1996, diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi total CO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61 Gg, NOX sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Adapun penyerapan CO2 oleh hutan kurang lebih sebanyak 364,726 Gg, dengan demikian untuk tahun 1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih tinggi dari tingkat penyerapannya. Indonesia sudah menjadi net emitter, sekitar 383,881 Gg pada tahun 1994. Hasil perhitungan sebelumnya, pada tahun 1990, Indonesia masih sebagai net sink atau tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi. Berapapun kecilnya Indonesia sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca secara global di atmosfer (Widjaja, 2002).

Banyak pihak yang beranggapan bahwa melakukan mitigasi secara permanen melalui penghematan pemanfaatan bahan bakar fosil, teknologi bersih, dan penggunaan energi terbarukan, lebih penting daripada melalui carbon sink. Hal ini dikarenakan hutan hanya menyimpan karbon untuk waktu yang terbatas (stock). Ketika terjadi penebangan hutan, kebakaran atau perubahan tata guna lahan, karbon tersebut akan dilepaskan kembali ke atmosfer (Rusmantoro, 2003).

Carbon sink adalah istilah yang kerap digunakan di bidang perubahan iklim. Istilah ini berkaitan dengan fungsi hutan sebagai penyerap (sink) dan penyimpan (reservoir) karbon. Emisi karbon ini umumnya dihasilkan dari kegiatan pembakaran bahan bakar fosil pada sektor industri, transportasi dan rumah tangga.

Pada kawasan hutan Pinus di DTA Rahtawu dengan umur tegakan 30 tahun mempunyai potensi penyimpanan karbon sebesar 147,84 ton/ha dengan prosentase penyimpanan terbesar pada bagian batang (73,46%), kemudian cabang (16,14%), kulit (6,99%), daun (3,17%) dan bunga-buah (0,24%). Dari data diatas dapat diprediksi kemampuan hutan pinus dalam menyimpan karbon melalui pendekatan kandungan C-organik dalam biomas memiliki potensi penyimpanan mencapai 44% dari total biomasnya. Sehingga DTA Rahtawu dengan luasan 101,79 ha memiliki potensi penyimpanan karbon dalam tegakan sebesar 15.048,5 ton, penyimpanan karbon dalam seresah sebesar 510 ton dan dalam tumbuhan bawah sebesar 91 ton karbon. (Suryatmojo, H., 2004)

Terumbu Karang Bisa Jadi Penyerap Karbon
Penyerapan karbon (carbon sink) oleh terumbu karang bisa terjadi, apalagi di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.

Peneliti Bidang Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kurnaen Sumadiharga di Jakarta, Rabu, mengatakan, isu penyerapan karbon melalui media terumbu karang ini harus dijadikan topik bahasan utama dalam Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) di Manado, 11-14 Mei 2009.

Ia menjelaskan, proses fotosintesa mungkin dilakukan oleh tumbuhan yang memiliki zat hijau daun atau klorofil. Menurut dia, terumbu karang terdiri dari unsur binatang karang bernama Polip yang melakukan simbiosis mutualisme dengan tumbuhan alga, yakni ganggang hijau.

“Tumbuhan inilah yang sesungguhnya melakukan proses fotosintesa, sekalipun di dalam air,” katanya. Proses fotosintesa, kata dia, memerlukan karbon dioksida (CO2) serta sinar matahari, yang selanjutnya menghasilkan oksigen (O2), air serta gula. Adapun CO2 yang menjadi bahan utama proses fotosintesa, kata dia, juga tersedia di laut.

Ia mengatakan, pada malam hari, saat terumbu karang tidak melakukan asimilasi, tumbuhan ini justru menghasilkan CO2. “Karbon yang dihasilkan saat malam hari inilah yang menjadi bahan utama terjadinya proses fotosintesa,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, keberadaan terumbu karang ini harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim.

Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Laut Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Negara Lingkungan Hidup Wahyu Indraningsih menuturkan, keberadaan terumbu karang di Indonesia harus benar-benar dijaga. Menurut dia, selain disebabkan oleh penggunaan bahan peledak, perubahan iklim global beberapa waktu terakhir ini juga menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang.

Ia mengatakan, perubahan iklim berakibat terhadap naiknya suhu air laut. “Suhu air laut yang naik 2-3 derajat Celcius dalam dua minggu berturut-turut menyebabkan kerusakan terumbu karang,” katanya. Kondisi semacam ini, lanjut dia, juga sudah mulai terindikasi di wilayah Indonesia.


Posted in Uncategorized

7 Comments »

  1. yang mau saya tanyakan disini apakah terumbu karang berpengaruh terhadap perubahan iklim yang dapat mengurangi karbon?
    dan pada saat alga yang bermutualisme dengan terumbu karang berfotosintesis carbon yang didapat dari carbon yang di atmofser?
    makasih

    Comment by djeecintalaut — 31 December 2009 @ 07:23

  2. dengan adanya terumbu karang apa mungkin dapat berpengaruh yang besaruntuk mengurangi carbon sink padahal pada malam hari terumbu karang tidak melakukan asimilasi, tumbuhan yang terdapat dalam karang ini menghasilkan CO2?

    Comment by reeesa03 — 31 December 2009 @ 10:15

  3. terima kasih atas artikel yang telah Anda buat, sedikit banyak telah menambah khazanah pengetahuan saya.
    menurut sumber yang saya baca, bahwa ternyata hutan jauh lebih efektif dalam hal penyerapan karbon dari pada laut, menurut Anda, apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
    terima kasih.

    Comment by furkonable — 31 December 2009 @ 14:13

  4. Mengapa kemampuan hutan untuk menyerap karbon terbatas ?
    Dan apa yang dimaksud dengan deforestasi ?

    Comment by Faisal_npm_39 — 3 January 2010 @ 15:32

  5. Syarat UAS Meteorologi
    1. Deadline pengumpulan adalah tanggal 5 January 2010,
    2. Isi diprint dan dikumpul pada tanggal 7 January 2010, ke bu lintang atau pak Noa,
    3. Pertanyaan (komentar) dan jawaban diprint di lembar terpisah,
    4. Link diprint dalam lembar terpisah,
    1. Pembangunan blog
    a. Pembangunan awal blog 30%
    b. Isi 40%
    2. Link 5%
    a. Komentar 5%
    b. Sustansi 10%
    c. Jawaban pertanyaan 10%

    Comment by noaa — 3 January 2010 @ 15:52

  6. Isi blog anda bagus…bisa jadi acuan…

    Terumbu Karang Bisa Jadi Penyerap Karbon
    Penyerapan karbon (carbon sink) oleh terumbu karang bisa terjadi, apalagi di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan. jelaskan bagaimana prosesnya?

    Comment by noaa — 3 January 2010 @ 15:56

  7. okee lhaa artikelnyaa..
    tapi mu nanya, Klo menurut abay apakah ada hubungan global warming dengan kemajuan suatu bangsa? khususnya bagi Indonesia gtuu
    Maaf yak lo pertanyaanya tidak begitu nyambung dengan artikelnya ..hhe.

    Comment by bella..brella =) — 3 January 2010 @ 16:08


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: