Ztaremolhk

Ekosistem Mangrove di pantai utara Pamanukan, Kabupaten Subang; Jawa Barat. | 15 June 2010

Perairan Gagara Menyan terletak di pantai utara Pamanukan, Kabupaten Subang; Jawa Barat. Perairan ini mernupakan muara beberaoa sungai dan dikelilingi oleh hutan mangrove. Luas perairan diperkirakan sekitar 95ha. Sebagaian besar daerah hutan mangrove yang terdapat di situ telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai tambak tumpangsari.

Perairan muara sungai atau estuari umunya mempunyai produktivitas yang tinggi. Menurut STEWART (1972), perairan muara biasaya kaya aka vitamin B-12 yang merupakan faktor pertumbuhan penting bagi plakton nabati yang berfugsi sebagai penghasil zat organik di lautan. Umumnya perairan muara juga terkenal sebagai penghasil kerang-kerangan dan berbagai jenis ikan lainnya (WALNE 1972).

Dalam rangka usaha pemanfaatan daerah-daerah perairan pantai, Lembaga Penelitian Perikanan Laut telah melakukan pengamatan perairan Gagara Menyan. Aspek-aspek yang diamati meliputi sifat-sifat fisika dan kimia perairan, kondisi hidrologis, penyebaran plankton, kondisi dan peranan hutan mangrove, dan perikanan tiram.

Menurut Barnes dan Hughes (1999), mangrove menghasilkan serasah sebanyak 20 ton/ha/tahun dengan produktifitas primer sebesar 0.5-2.4 gram C/m2/hari. Sedangkan Raffaelli dan Hawkins (1996), menyatakan bahwa komunitas mangrove menghasilkan produktifitas primer sebesar 310 gram C/m2/tahun. Sebagian besar dari serasah atau bahan organik yang berada di daerah mangrove tidak langsung dimanfaatkan oleh organisme melainkan akan memasuki jaring-jaring makanan dalam bentuk bahan organik terlarut (Dissolved Organic Matter).

Mann (2000) menyatakan bahwa rata-rata produksi serasah mangrove yang berasal dari daun dan ranting yang gugur mencapai 0,5 – 1,0 kg/m2/tahun. Dari jumlah tersebut sekitar 50%akan hanyut ke luar dari daerah mangrove saat pasang dan terbawa menuju ke ekosistem lamun dan terumbu karang.

Secara umum proses transfer nutrien dari daratan menuju daerah mangrove, lamun dan terumbu karang sangat kompleks dan menarik untuk dipelajari karena menunjukkan adanya hubungan keterkaitan di antara ekosistem yang ada di daerah pesisir. Bahan organik yang dibawa oleh aliran sungai dan serasah mangrove mengalami proses dekomposisi terlebih dahulu sebelum dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai unsur hara. Saat daun mangrove gugur dari pohon dan jatuh di permukaan air, maka dimulailah proses dekomposisi bahan organik. Daun mangrove yang jatuh di air atau lumpur yang becek dan lembab akan membusuk perlahan-lahan akibat proses dekomposisi oleh bakteri dan jamur. Proses dekomposisi ini sangat penting karena mengubah serat daun mangrove yang tidak dapat dicerna menjadi menjadi serat yang lebih mudah dicerna. Serasah mangrove yang sudah membusuk tadi kemudian akan dirobek, dicabik-cabik menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dan dicerna oleh kepiting dan hewan invertebrata lainnya. Potongan-potongan ini dikenal sebagai POM (Particulate Organic Matter). Setelah dicerna, terbentuk partikel organik yang lebih halus dan lebih sederhana dalam bentuk feses (kotoran). Feses ini akan dicerna lebih lanjut oleh organisme pemakan deposit (deposit feeder) menghasilkan feses yang lebih halus lagi dan kemudian dimanfaatkan oleh organisme penyaring makanan (filter feeder).

Proses dekomposisi akibat autolisis jaringan mati dan aktifitas bakteri akan menghasilkan bahan organik yang sifatnya terlarut yang dikenal sebagai DOM (Dissolved Organic Matter). Bahan ini akan dimanfaatkan kembali oleh bakteri, diserap oleh hewan invertebrata atau berikatan dengan partikel tersuspensi dan gelembung busa melalui proses fisik-kimiawi sebelum mengendap di dasar perairan dan dimanfaatkan oleh organisme yang hidup dalam sedimen . Sebagian bahan organik akan terhanyut menuju ekosistem lamun dan terumbu karang. Bahan Organik (DOM) yang terlarut dalam kolom air akan dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai produsen primer membentuk partikel organik yang lebih kompleks melalui proses fotosintesis. Fitoplankton kemudian dimakan oleh zooplankton, zooplankton dimakan oleh juvenil ikan dan seterusnya. Dengan demikian terjadi transfer energi dari mangrove ke dalam jaring-jaring makanan melalui aktifitas dekomposisi dari mikroorganisme (Mann, 2000).

Di ekosistem mangrove rantai makanan yang ada untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Detritus diperoleh dari guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan kemudian mengalami penguraian dan berubah menjadi partikel kecil yang dilakukan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.

Rantai ini dimulai dengan produksi karbohidrat dan karbon oleh tumbuhan melalui proses Fotosintesis. Sampah daun kemudian dihancurkan oleh amphipoda dan kepiting. (Head, 1971; Sasekumar, 1984). Proses dekomposisi berlanjut melalui pembusukan daun detritus secara mikrobial dan jamur (Fell et al., 1975; Cundel et al., 1979) dan penggunaan ulang partikel detrital (dalam wujud feses) oleh bermacam-macam detritivor (Odum dan Heald, 1975), diawali dengan invertebrata meiofauna dan diakhiri dengan suatu spesies semacam cacing, moluska, udang-udangan dan kepiting yang selanjutnya dalam siklus dimangsa oleh karnivora tingkat rendah. Rantai makanan diakhiri dengan karnivora tingkat tinggi seperti ikan besar, burung pemangsa, kucing liar atau manusia.

Rantai makanan pada ekosistem mangrove (Nybakken, 1992)

Gambar diatas dijelaskan tentang rantai makanan pada ekosistem mangrove secara umum namun proses rantai makanan tersebut tidaklah beda dengan system rantai makanan di ekosistem mangrove di pantai karangsong indramayu.

Daur energi pada ekosistem mangrove

Di alam semesta hanya terdapat satu sumber energi yaitu cahaya matahari. Di dalam beberapa referensi juga dijelaskan bahwa sumber energi selain matahari seperti energi air, energi listrik, energi ombak dan lain sebagainya itu semua adalah hasil transformasi (aliran) energi matahari menjadi berbagai energi tersebut.

Anda juga masih ingat bahwa aliran energi energi di dalam ekosistem berbeda dengan daur materi, dimana sifat energi mengikuti hukum-hukum termodinamika.

  1. Hukum termodinamika I : yang menyatakan bahwa energi dapat diubah bentuknya, dari bentuk yang satu kebentuk yang lain, tetapi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan.
  2. Hukum termodinamika II : yang menyatakan bahwa setiap proses perubahan  bentuk energi selalu tidak efesien. Oleh karena itu setiap perubahan bentuk energi, maka energi baru yang terbentuk konsentrasinya selalu lebih kecil dari pada konsentrasi energi sebelumnya.

Berapa besarkah energi yang mengalir pada setiap organisme di dalam ekosistem?

Marilah kita lihat gambar berikut :

Produser

Tanaman sebagai produser adalah awal dari terjadinya aliran energi. Hanya sekitar 10% energi yang mengalir ke dalam setiap aras trofik yang lebih tinggi

Konsumer primer

Hanya sekitar 10% energi yang tersedia pada tanaman dapat digunakan sebagai makanan bagi konsumer primer (herbivora).

Konsumer sekunder

Hanya sekitar 1% energi produser yang dapat dimanfaatkan oleh konsumer sekunder.

Jadi hanya sekitar 10% dari setiap level/aras trofik yang dapat dimanfaatkan oleh organisme berikutnya. Begitu besar entropi (energi yang tidak termanfaatkan) di dalam suatu ekosistem.

Rujukan Bacaan :

Supriharyono. 2000. Pelestarian Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia : Jakarta

Nybakken, James.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Gramedia : Jakarta


Posted in Uncategorized

3 Comments »

  1. Salam kenal. Salam MANGROVER! Apabila berminat, untuk mengetahui teknik rehabilitasi mangrove yang baik, silahkan menuju ke Jaringan KeSEMaTONLINE http://www.kesemat.undip.ac.id. Semangat MANGROVER!

    Comment by KeSEMaT — 24 June 2010 @ 14:42

  2. bila kita menyadari peranan alam niscaya kita bisa menjaga hijaunya bumi dan perlu banyak orang yang memberikan penyadaran akan hal ini. artikel ini cukup berkontribusi di dalamnya

    Comment by eti — 27 June 2010 @ 04:05

  3. Artikel ilmiah yang menarik tentang mangrove

    Comment by Mangroveblog — 20 July 2010 @ 07:39


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: